Thoriqoh Shiddiqiyyah

Akhirnya, JATMI akui Shiddiqiyyah Muktabaroh

Oleh Red. Al-Kautsar | 13 June 2011

Tags:

Hampir seribu tahun nama Thoriqoh Shiddiqiyyah terpendam dalam bumi kethorikotan, lamanya waktu itu seolah “membunuh”  ingatan semua insan. Setelah nama Shiddiqiyyah yang sudah memfosil itu hampir musnah, Almukarrom Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Muhtarulloh Al-Mujtaba memunculkan kembali nama itu atas perintah dari sang maha guru Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Almukarrom Syech Syu’aib Jamali Al-Banteni.
Gegerlah seantero masyarakat pemerhati thoriqoh, hujan fitnah dan lemparan makian datang bertubi-tubi. Label muktabaroh dan non muktabaroh di dunia thoriqoh tiba-tiba menjadi isu yang santer. Padahal label itu adalah “ciptaan” sekelompok organisasi yang hanya berlaku di Indonesia.

Shiddiqiyyah tak tergoyahkan. Hujan fitnah yang turun malah mengangkat nama Shiddiqiyyah yang terpendam di bumi hingga nama itu makin mukatabar (populer) hingga tembus ke negeri manca. Nama thoriqoh Shiddiqyyah dimasukkan dalam daftar 44 thoriqoh yang berkembang di bumi ini.
Tak berhenti di situ, bersama tumbuhnya fase ketiga masa perjuangan Shiddiqiyyah ini, tak disangka tanpa ada permintaan dari pihak Shiddiqiyyah, kini Thoriqoh Shiddiqiyyah justru dimasukkan dalam jajaran 40 Thoriqoh muktabaroh di Indonesia oleh lembaga yang dulu justru pernah menghukuminya tidak sah, bahkan dalam urutannya Thoriqoh Shiddiqiyah berada di peringkat ke-2.

Bagi Shiddiqiyah keputusan tersebut bukanlah hal yang istimewa. Shiddiqiyyah dikatakan muktabaroh ataupun tidak, bukan menjadi persoalan. Yang utama dan penting, ajaran Shiddiqiyyah tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan hadist Nabi. Atas berkat rohmat Alloh, Shiddiqiyyah terus hidup, tumbuh dan berkembang dengan bijaksana. Lestari untuk selamanya.

Sejarah perjuangan ini bukan hanya harus dikenang, tapi diambil hikmahnya agar para generasi penerus tidak lupa dan dapat belajar dari jerih payah para pendahulunya. Sebagaimana mengambil hikmah dari perjuangan Rasululloh di dalam menyebarkan agama Islam seorang diri di tengah masyarakat jahiliyah. Bagaimana pula perjuangan bangsa Indonesia selama 350 tahun berkorban jiwa raga melawan imperialis penjajah. Tentu bukan hanya masa-masa emas yang harus diingat, tapi masa-masa pahit sulit justru lebih penting, agar generasi saat ini tangguh dan bijaksana bak pendahulunya.

(simak selengkapnya di edisi khusus Hari Shiddiqiyyah tahun ini ; dan simak selengkapnya hanya di majalah Al-Kautsar edisi khusus bulan ini) .